Terbuka itu

0
1116

Oleh: Ahmad Munif

Si fulan pernah diajari bagaimana cara berwudlu yang baik. Itu pelajaran awal saat si fulan masih kanak-kanak dulu. Namanya usia belia, si fulan manut saja apa yang diajarkan gurunya. Akhirnya, si fulan mengamalkan ilmu cara berwudlu itu setiap hari. Itu terus berjalan sampai usia sekolah dasar. Sampai pada suatu titik, si fulan bertanya pada dirinya sendiri, mengapa harus muka, tangan, rambut, telinga, dan kaki yang harus diusap dan dibasuh ketika berwudlu? Mengapa?
Di usia pembentukan watak kepribadian anak ini, si fulan mendapati ilmu lanjutannya, secara ringkas, demikianlah cara berwudlu dan bagian tubuh yang mesti dikenai air, yang diajarkan oleh ulama. Ulama mendapatkan itu dari ulama generasi sebelumnya. Terus ke atas sampai tabi’in. Tabi’in memperolehnya dari sahabat. Sementara sahabat mendapatkannya dari Nabi Muhammad. Si fulan menerima dengan tangan terbuka ilmu ini. Si fulan masih terus meyakini dan melakukan cara berwudlu yang diketahui.
Si fulan bertambah usia. Dalam perjalanannya menapaki kehidupan, sambil terus melaksanakan ilmu berwudlunya itu, si fulan tiba-tiba punya pertanyaan susulan, sepertinya ada sesuatu hal mengapa Nabi diperintahkan membasuh dan mengusap muka, tangan, rambut kepala, telinga, dan kaki saat berwudlu. Apa ya? Si fulan mencari-cari itu.
Si fulan mendapati jawaban itu di usia menginjak dewasa. Si fulan pernah diberi tahu bahwa beberapa anggota tubuh yang wajib dikenai air saat wudlu merupakan titik-titik tertentu yang bisa distimulasi agar tubuh menjadi lebih sehat dan aktif. Stimulasi itu bisa berupa gosokan, basuhan, usapan, dan tekanan. Persis perilaku orang berwudlu. “Ternyata, begitu to. Alhamdulillah sehat,” ucap si fulan.
“Lha kenapa harus pakai air? Di Arab kan katanya lebih banyak gurun pasirnya dari pada sumber air?” si fulan bertanya lagi. Ada yang mau bantu menjawab?

Mari dibantu! Si fulan berandai-andai, jika dulu Nabi lahir dan dibesarkan di Jawa daerah pegunungan, cocok itu kalau yang diperintahkan harus pakai air. Husss… Jangan ngaco. Ayo dipikir yang bener! Andai, andai itu lagunya grup band Gigi, tahu ndak?
Ok. Lanjut tentang air tadi. Si fulan mendapati informasi yang mengejutkan. Katanya, air itu hidup. Air bisa merespon perilaku manusia. Air bisa menanggapi omongan manusia. Salah seorang peneliti Jepang meneliti ihwal air. Apa yang dia dapat? Menurutnya, air bisa memberikan respon positif maupun negatif atas aktivitas manusia. Wah, wah…. Siip ini. Lanjutkan… Air yang diberikan kata-kata positif laiknya cinta dan terima kasih akan berwujud seperti kristal yang indah itu. Sebaliknya, jika air dikata-katai dengan yang negatif seperi bodoh dan kawan-kawannya, maka bentuknya akan menjadi tidak karuan. Oh ya, peneliti Jepang itu bernama Masaru Emoto. Dia masih satu negara dengan Hidethosi Nakata, pesepakbola tahun 2000-an yang pernah membela klub Perugia, AS Roma, dan Parma.
Si fulan masih lanjut mengamalkan cara berwudlu yang baik itu. Dari sana, si fulan mendapati ilmu-ilmu lain yang luar biasa. Katanya, kini si fulan tengah studi doktor dalam bidang hidrologi. Si fulan ingin meneliti dan menguak lebih dalam lagi tentang air. Wow.. Itu keren.
Si fulan memutuskan mengambil studi itu setelah berkonsultasi tak sengaja dengan kawan seangkatannya. Kawan si fulan tadi mengatakan, “Orang mencari ilmu itu bisa karena ingin tahu, karena penasaran, karena tertarik, dan mungkin lainnya yang tak terduga. Selama itu masih ada dalam pikiranmu, ya buru ilmu itu..” si fulan tampaknya masih penasaran dengan yang bernama air ini. Si fulan ingin terus mengurangi penasaran itu.
Dalam jenjang akademik yang ada saat ini, ia dirancang untuk melaksanakan ilmu di setiap jenjang. Dari yang paling dasar, menengah, hingga level tinggi. Pelaksanaannya bisa berupa menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari atau mencari lebih dalam dan detail, orang menyebutnya dengan meneliti. Lha terus maksudnya apa?
Coba simak kata-kata Imam Ghazali berikut, “I’mal anta bimaa ta’lam liyankasyifa laka maa lam ta’lam,” Apa itu? Pesan itu ada di buku Ayyuha al-walad, karya Imam Ghazali. Maksudnya kira-kira begini, lakukan, laksanakan, kerjakan apa yang sudah diketahui agar terbuka atau mendapatkan hal lain yang belum diketahui sebelumnya. Dalam bahasa lain, dengan mengamalkan ilmu yang sudah diketahui, akan mendapatkan ilmu-ilmu lain.
Pepatah bijak menyebutkan, practice make you perfect. Wah, cek dulu gramarly-nya, bener gak tu? Monggo dicek saja. Practice itu dalam bahasa Imam Ghazali tadi ya sama dengan i’mal. Sementara make you perfect bisa dimaknai sebagai kondisi orang yang mempraktekkan akan terus menerus menuju kesempurnaan, menuju ilmu lanjutannya, menuju ilmu yang lebih tinggi. Dan seterusnya. Bukan kah kesempurnaan hanya milik Tuhan? Anda benar, seratus. Adapun manusia ditugasi oleh Tuhan untuk menuju yang sempurna. Sampai kapan? Sepanjang hidup.
Jadi? Imam Ghazali dan pepatah tadi menginginkan agar manusia tidak berhenti belajar, tidak berhenti mencari tahu, tidak berhenti menuntut ilmu. Kalau dalam hadis dikatakan, “Tuntutlah ilmu dari ayunan hingga menuju kuburan,” Hmmm. Pusing ah pusing. Jangan dipikir pusing, santai saja. Jalani saja yang ada. Jangan lupa juga untuk minum teh hangat manis di pagi hari, biar hidup lebih bahagia. “Saya sruput dulu ya tehnya,” ujar si fulan.
Cekap semanten rumiyen. Semoga ada manfaatnya.
Tlogorejo, Karangawen, Demak. 19 Februari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here