Oleh: Ahmad Munif

Si fulan tengah menikmati es doger kesukaannya. Si fulan sengaja menyempatkan waktu habis dari berjamaah salat dzuhur tadi untuk mampir di kedai es doger. Sudah dua bulan lebih si fulan tidak berkunjung ke kedai favoritnya itu.

Siang yang terik, menjadikan es doger yang dikunyah si fulan tambah terasa aduhai. Seperti surga dunia lah menurut si fulan.
Tak berselang lama, “klung”. Hape android si fulan menerima pesan masuk via whatsapp. “Siapa ini?” kata si fulan sambil mengunyah es doger. Ohh, Robi. Tumben japri. Nasib Robi hampir sama dengan es doger, hampir dua bulanan tidak terdengar kabarnya oleh si fulan. “Ada apa rob?” Si fulan membalas japrian Robi. “Ada orderan nih, mau? Ge dimana ni?” balas Robi.
Si fulan dan Robi sudah lama kerjasama dalam bidang desain rumah. Mereka sering saling bertukar job.

“Boleh, besok ke rumah ya?” Si fulan mengiyakan. “Aku sedang makan es doger ini. Nikmat sangat. Rasanya lebih dahsyat dari pada es krim yang diiklankan di tv dengan tokoh singa itu. Serasa di surga saat makan es doger ini,” tambah si fulan. “Gak percaya ah. Mana ada rasa es doger segila itu.” Robi sangsi dengan pengakuan si fulan.
Untuk meyakinkan Robi, si fulan memfoto es doger yang sedang dinikmati dan mengirimkannya ke Robi. Dari gambar itu tampak es doger dengan bermacam isiannya. Dari mulai parutan kelapa muda, ketan hitam, roti tawar, irisan alpukat, dan lainnya ditambah dengan susu kental manis. Robi tetap saja tidak yakin dengan penjelasan si fulan.
Sore harinya, Robi menelpon langsung si fulan. Menegaskan kembali orderan yang ia sampaikan tadi siang. Juga untuk memastikan jam berapa besok mau ketemuan. Sesudah mendapatkan kesepakatan untuk ketemuan besok, si fulan menyinggung lagi ihwal es doger tadi siang. Kali ini si fulan mendeskripsikan langsung apa yang ia rasakan ketika makan es doger. Si fulan bercerita dengan detail tiap sendok es doger yang dinikmati, dari awal hingga akhir. Tapi apa respon Robi?
“Gue tetap gak percaya,” tegas Robi. Si fulan merasa gagal meyakinkan pada Robi tentang nikmatnya makan es doger langganannya. Di samping juga, dasar Robi orangnya tidak mudah percaya dengan orang. “Bro, kamu lupa sesuatu ya?” Robi menanyai balik si fulan. “Apa rob?” Si fulan mengernyitkan dahi. “Tidak semua hal cukup dijelaskan dengan ucapan atau tulisan saja. Dalam hal-hal tertentu, sesuatu itu harus dirasakan sendiri biar menjadi jelas dan terang.” Robi menegaskan apa yang ditanyakan sebelumya.
“Sebentar, kayaknya aku pernah mendengar dan membaca kalimat itu. Dimana ya?” Si fulan menyela penjelasan Robi. “Ayo dimana? Diingat-ingat lagi!” Robi memancing si fulan. Kasian si fulan, dianggap ikan sama Robi. Jadinya dipancing deh, hehe. Eh, gak apa lah. Meskipun ikan (di sungai maupun laut) sering ditipu oleh para pemancing, dia hewan yang hebat dan keren. Ikan tumbuh dan berkembang dengan melawan arus air. Terus bergerak tiada henti. Ikan yang berhenti bergerak, pertanda dia mati. Ikan di laut lebih keren lagi, meskipun seluruh air laut itu asin, ikan tidak ikut larut menjadi asin. Ikan simbol pribadi yang teguh.
Walah, kok malah membahas ikan. Si fulan sudah ingat apa belum? Jangan lama-lama mengingatnya. Kasihan yang pegang alat untuk pancingan tadi, pegel. Lah ini maksudnya apa lagi? Tambah gak jelas. Si fulan masih mencoba mengingat-ingat.
“Wah, kelamaan bro. Nanti dibuka ya buku Ayyuha al-walad! Halaman sembilan, tiga baris terbawah dan halaman sepuluh enam baris paling atas.” Robi memotong si fulan yang sedang memegang dahi, meraba memori otaknya. Disana disebutkan, “Tidak semua jawaban atas persoalan cukup dijawab dengan perkataan dan tulisan sana. Ada persoalan yang harus dijawab dengan bertemu atau mengalami sendiri secara langsung. Sebab itu soal rasa. Apalagi terhadap hal yang belum pernah dialami, dilihat, atau didengar sendiri sebelumnya. Nah segala yang berhubungan dengan rasa, tidak cukup dijelaskan hanya dengan perkataan saja.”
Imam Ghazali memberi contoh rasa manis dan rasa pahit. Orang akan benar-benar mengerti dan paham bahwa sesuatu itu pahit atau manis setelah merasakan sendiri. Seberapa kadar manis dan pahitnya juga akan diketahui saat dialami sendiri oleh orang tersebut. “Betul juga itu. Kok aku lupa sama sekali ya, Astaghfirullah.” Si fulan mengiyakan penjelasan Robi.
Penjelasan itu juga ditujukan untuk orang-orang yang sedang berguru. Pahit dan manisnya berguru dalam mencari ilmu tidak cukup hanya ditransfer kepada orang lain melalui ucapan dan tulisan saja. Orang itu harus melakukan dan menjalaninya sendiri, tak bisa diwakilkan. Itu kalau mau tahu pahit dan manis yang hakiki. Tidak sekedar manis dan pahit yang mengelabuhi mata.
“Nah, berangkat dari penjelasan tadi, kalau ingin aku percaya bahwa es doger favoritmu itu enak, ya saya harus ikut merasakan langsung.” Robi menegaskan ulasannya. “Jadi, besok kamu harus mentraktir gue makan es doger. Setuju?” Robi menodong si fulan. “Ok Rob. Siap lah. Besok kita bahas orderan jam sepuluh ya. Di rumah.” Si fulan menyanggupi pemintaan Robi.
Keesokan harinya, Robi dan si fulan membicarakan orderan mereka jam sepuluh hingga jam dua belas siang. Mereka berdua lantas salat dzuhur berjamaah. Setelah itu menuju ke kedai es doger langganan si fulan. Mereka menikmati bersama-sama makan es doger. “Kalau begini gue baru percaya nikmatnya es doger, memang serasa di surga segarnya. Ma syaa Allah. Alhamdulillah.” Robi berterima kasih atas traktiran si fulan. “Semoga kelak di surga disediakan es doger ya. Hehe,” canda si fulan. “Amin.”
Semanten rumiyen. Mugi bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here