Memahami Hadits Jibril Tentang Islam, Iman dan Ihsan

0
123

Bagian II
By Baharuddin Abd Rahman

Theory of influence yang disinggung sebelumnya tidak dapat disederhanakan dengan memahaminya secara literal, i.e., pengaruh mempengaruhi atau presisinya dunia Barat mempengaruhi dunia Timur. Lebih dari itu, teori ini melahirkan implikasi-implikasi yang esensinya menunjukkan bahwa dari segala aspek, Barat adalah superior, penguasa, dan kelas wahid, sedang Timur, termasuk Islam adalah inferior, terjajah dan kelas kedua. Hal demikian inilah yang kemudian dikampanyekan, disusupkan dan bahkan, diproyeksikan (pem-Barat-an), sehingga menjadikan Barat seolah-olah statue atau idol di mana dunia selainnya harus berkiblat, meniru, dan membeo Barat.
Istilah-istilah seperti “dewesternisasi,” “dekolonialisasi,” “desekularisasi,” “islamisasi” dan lain sebagainya merupakan istilah-istilah yang lahir sebagai upaya membendung westernisasi atau pembaratan. Dunia Timur yang sadar “identitas” memahami betul bahwa betapa selama ini, jati diri, harkat dan martabat mereka telah terinjak-injak akibat dari maha proyek ini.

Dalam filsafat agama, theory of influence ini kemudian mempengaruhi banyak ahli, khususnya orientalis. Bukti nyata dari itu adalah lahirnya ide “kesatuan agama” yang mereka istilahkan dengan the Transendent Unity of Religion yang berhembus dari arah angin Jerman, dipelopori oleh Frithjof Schuon (diamini oleh banyak intelektual Muslim di berbagai seantero dunia, di antaranya Syed Hossein Nasr). Ide ini kemudian melahirkan banyak turunan, yang masyhur dari mereka adalah “pluralisme.” Di Indonesia ada Islam “L,” Islam “M,” dan baru-baru ini ada Islam “N.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here