Hasrat Itu

0
1467

Oleh : Ahmad Munif

Tlogorejo, Karangawen, Demak. 7 Februari 2019

Diantara kawan sepermainan si fulan zaman SMA dulu, terdapatlah Ade yang berbadan atletis. Berbadan kekar, tinggi menjulang, dan perut sixspec. Wao… Keren sekali.

Gadis-gadis di sekolah tempat si fulan menimba ilmu seolah terbius saat Ade berjalan di hadapan mereka. Mirip-mirip dengan kisah nabi Yusuf yang membuat wanita-wanita tak sadarkan diri telah mengiris-iris tangannya sendiri dengan pisau yang dipegang saat lewat di hadapan mereka. Tapi tenang, di sekolahnya si fulan, dilarang membawa benda tajam. Jadi tidak bisa niru kisah nabi Yusuf tadi. Hehehe. Namun demikian, Ade tetap rendah hati. Tidak menyombongkan diri.
Si fulan tengah mencari baju koko di pasar dekat rumah. Dipilah lah beberapa model baju koko yang sesuai dengan ukuran tubuh si fulan, juga warna yang pantas untuk kulit si fulan yang tergolong sawo matang. Wah, sudah jarang makan buah sawo. Pohon sawo di desa sudah banyak yang ditebang. Dikorbankan untuk rumah. Jadi pengen makan sawo mendengar warna kulit si fulan yang mirip sawo.

Ayo kembali ke laptop…! Oh ya, si fulan jadi beli baju koko? Ya tu, sedang tawar-menawar dengan yang punya lapak. Kala si fulan serius beradu argumen untuk menetapkan harga, datang pria berbadan tambun menyela, “Maaf pak, kaos warna hijau ini berapa harganya? Minta yang ukuran XXL.” Si fulan tidak asing dengan suara itu. Siapa ya?
“Maaf, Ade ya? Bintang olah raga yang digandrungi wanita seantero sekolah?” si fulan langsung mengalihkan perbincangan kepada pria berbadan tambun di sebelahnya. “Ya, saya Ade, bapak manggil saya?” pria itu menjawab sambil tolah-toleh, barang kali bukan dirinya yang dimaksud. “Ini gue, teman SMA,” si fulan menyambut. Ade langsung teringat dengan si fulan yang selalu di-KO saat balapan lari. “Sedang buru-buru tidak? Mampir dulu di warung kopi pojok pasar situ!” si fulan merayu Ade, mau kangen-kangenan. “Oke lah. Saya bayar dulu kaos ini.” Ade sepakat. “Oh ya, gue juga belum bayar baju kokonya,” si fulan baru ngeh kembali. Si fulan dan Ade bergegas menuju warung kopi.
“Kenapa bisa jadi seperti ini badanmu Ade, gue hampir gak kenal tadi, dimana keatletisanmu itu De?” si fulan membuka obrolan sambil menunggu pesanan kopi susu. “Ah, sudah lupakan saja badan atletis itu. Aku masih sehat seperti ini, Alhamdulillah,” jawab Ade. “Ngomong-ngomong, apa yang terjadi? Apa mau menjadi penyaing isteri yang tengah hamil tua? Hehe.” si fulan menggoda Ade. “Ceritanya panjang sob. Tapi ya sudah lah. Diterima apa yang ada. Ini juga akibat ulahku sendiri.” Ade segera menyeruput kopi yang baru saja datang.
Ade kemudian bertutur ihwal rentetaan perjalanan dirinya sehingga dirinya kehilangan tubuh atletis idaman itu. Setamat SMA, ade melanjutkan kuliah di kampus ternama di kota terdekat. Setengah perjalanan kuliah, badan Ade masih atletis. Masa itu lah dia mendapatkan calon pendamping hidup yang kini telah menjadi isterinya. Di akhir-akhir masa kuliah, saat disibukkan dengan tugas akhir kuliah, Ade jarang berolah raga. Ditambah pula untuk menunjang penggarapan tugas akhir, Ade sering ngemil dan makannya tidak terkontrol. Saat itu tanda-tanda perut membuncit mulai terasa. Tapi belum sebesar kala bertemu si fulan di pasar.
Setamat kuliah, Ade langsung memperoleh pekerjaan di perusahaan bertaraf internasional yang berkantor di kota tempat tinggal Ade. Tuntutan pekerjaan dan gaji yang wah membuat Ade lupa diri. Olah raga hampir-hampir tidak tersentuh oleh Ade. Akhir pekan sering mendapat tugas kantor untuk ke luar kota atau luar daerah. Makin parah lagi Ade tidak bisa mengontrol pola makannya. Semua jenis makanan yang diinginkan oleh ade hampir pasti terpenuhi. Makanan ala padang, spagetti, pizza, burger, kebab, dan semacamnya selalu dilahap oleh Ade tiap hari. Bagi Ade yang bergaji wah, makanan segitu kecil lah. Hasilnya, perut Ade tambah buncit dan rentan penyakit.
Pernah suatu ketika, ade pingsang di kamar mandi. Beruntung bagi Ade, masih selamat. Tidak lama kemudian, dokter menyampaikan bahwa berat badan Ade sudah berlebihan, timbunan lemak juga berlebih, rawan terkena serangan jantung, dan bermacam penyakit dengan nama-nama aneh lainnya. “Apa yang harus saya lakukan dok?” Ade mengenang masa itu. “Kurangi makanan yang tidak sehat. Jaga pola makan agar teratur. Usahakan olah raga!” pesan dokter pada Ade.
Melihat dirinya yang sudah tidak ideal lagi, Ade percaya pada saran dokter itu dan menuruti perkataannya. Ade mulai menjaga pola makan. Ade paksa dirinya untuk melawan hawa nafsu perutnya untuk menyantap berbagai makanan kesukaannya. Tak ketinggalan, Ade juga mewajibkan dirinya untuk berolah raga di akhir pekan, sesibuk apapun dirinya. “Alhamdulillah kini berat badanku sudah turun sepuluh kilo, badan juga lebih terasa sehat dan nyaman,” Ade menutup runtutan cerita tubuhnya.
“Keren juga ceritamu De, siip lah. Kamu bisa berjuang dan memaksa untuk mengekang keinginan perut, plus memaksa istiqomah olah raga,” sambung si fulan. “Kalo gak gitu, bisa-bisa cepat habis umurku,” Ade menimpali. “Ternyata, Tuhan punya cara unik untuk mendidik hamba-Nya mengekang hawa nafsu,” si fulan coba membuat komparasi. “Wah, mulai serius nih. Masih saja gak berubah kamu sob. Dikit-dikit serius. Dikit-dikit serius. Pantas saja badanmu tetap istiqomah kurus segitu. Hehe,” Ade menggoda si fulan. “Ayo…! mana seriusnya? Aku mau mendengar ceramah kawanku yang berwajah serius ini,” Ade merajuk.
Si fulan kemudian mengupas pesan kedua Khatim al-Ashom diantara delapan pesan yang diungkap oleh Imam Ghazali dalam buku Ayyuha al-Walad. Di bagian ini dikatakan, Khatim al-Ashom melihat banyak manusia yang mengikuti hawa nafsunya dan selalu bergegas menuruti keinginan si hawa nafsu. Padahal dalam Alquran disebutkan, “Adapun orang yang takut (kelak) menghadap Tuhannya dan menahan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surga adalah tempat kembali (baginya).” Khatim al-Ashom yakin bahwa Alquran itu benar adanya. Maka kemudian Khatim al-ashom bersegera selalu menentang keinginan hawa nafsunnya. Juga melakukan riyadhah (upaya) dalam rangka taat kepada Allah. Akhirnya Khatim al-Ashom berhasil mengendalikan hawa nafsunya.
“Sama dengan kamu tadi De, kamu yakin dengan saran dokter itu. Kau lawan hawa nafsumu dan melakukan riyadhah berupa olah raga teratur. Sehingga kini kamu tampak lebih sehat,” si fulan menyimpulkan. “Sepakat bro. Baru nyadar gue.” Ade langsung menimpali tanda paham dan setuju. Kopi segera dibayar dan keduanya berpisah untuk pulang ke rumah masing-masing.
Sekian dulu. Semoga bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here