Akibat Itu

0
793

Kediri. 1 Februari 2019.
Oleh: Ahmad Munif

Si fulan sedang memegang koran ternama. Ada informasi menarik menurutnya. Di halaman depan terdapat head line, KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) melakukan OTT (operasi tangkap tangan). Siapa ini pelakunya? OTT sering banget. Pelaku korupnya kurang canggih itu. Maksudnya? “Saya mikir dulu…”
Korupsi merupakan kejahatan luar biasa. Kata orang bule korupsi itu extra ordinary crime. Entah siapa yang awal mula menciptakan jurus korupsi ini. Orang Jawa memakai istilah sogok untuk korupsi tadi. “Dalam bahasa Arab disebut apa tu korupsi?” Si fulan yang pernah kuliah di perguruan tinggi agama Islam ditodong.
Si fulan garuk-garuk kepala. “Hmmm, risywah. Ya Saya ingat. Korupsi atau sogok tadi disebut risywah. Pelakunya dinamakan al-rasyi.” “Betul, betul, betul.” Kawan si fulan menyahut ala upin ipin. Si fulan lantas menambahkan, “Islam melarang perilaku korup. Yang memberi dan yang menerima sama saja.” “Dalam hadis Nabi dikatakan, al-rasyi wa al-murtasyi fi al-nar. Yang nyogok dan yang disogok akan masuk neraka semua.” Ada yang mau? Jangan dong. Zaman now kok korup, gak keren ah.
Lha sudah diancam neraka gitu, masih banyak dan tambah banyak saja itu pelaku korupsi. Why like that? Apa neraka sudah tidak menakutkan? Si fulan tidak tahu pasti. Setahu dia, jalan menuju neraka itu mahal harganya, tapi banyak yang suka. Orang korup tadi tampaknya enak, mendapatkan banyak keuntungan. Tapi informasinya, dia harus keluar biaya yang besar juga untuk tutup mulut. Mahal banget kan?
Tapi apalah daya bagi si fulan. Siapa yang mau mendengarkan omongan dan ocehannya? Apalagi memaksa orang untuk tidak korup. Itu sesuatu yang impossible, bacanya imposibel ya, bukan imposebel. Hehe. Si fulan tahu diri. “Minimal saya sendiri tidak berperilaku korup. Biar ditiru isteri dan anakku. Itu saja.” Si fulan merendah.
Si fulan ingat petuah bijak pak kyai nya. “Lakukan apa yang kamu inginkan, dan ingat, semua yang dilakukan akan mendapatkan balasan.” Pak kyai mengutip pesan yang termaktub dalam Ayyuha al-walad. Si fulan selalu diwanti-wanti untuk berhati-hati dalam bersikap. Pesan tadi juga terdapat dalam Alquran, sepertinya di surat al-zalzalah. Anak si fulan sudah hafal surat itu.
Seluruh perbuatan manusia akan mendapatkan ganjaran. Orang yang menanam kebaikan akan dibalas dengan kebaikan pula. Pun sebaliknya, orang yang menanam kejahatan atau keburukan akan dibalas dengan yang serupa. Semua tercatat rapi di tangan Malaikat Raqib dan Atid. Malaikat yang diyakini diberi tugas oleh Tuhan untuk mencatat amal perbuatan manusia. Pembukuannya sangat rapi dan detail.
Ada yang perlu diperhatikan ihwal berbuat baik atau buruk ini. “Orang yang menanam padi akan mengunduh padi. Tapi lihatlah, selalu ada hama rumput disekitar tanaman padi. Sedangkan orang yang menanam hama rumput, juga hanya akan memanen rumput. Tapi tidak ada padi di sekitarnya.” Si fulan ingat pesan orang tua yang tak sengaja ketemu di terminal tempo hari.
“Maksudnya apa itu? Saya petani, tiap musim hujan tanam padi. Urusannya dengan korupsi tadi apa?” kawan si fulan menimpali. Oh ya, tadi sedang membahas korupsi ya. Malah sampai tanam padi ini. “Gini lho, dengarkan baik-baik ya?” Si fulan mau memperjelas peribahasa tanam padi tadi. Orang yang berbuat kebaikan, misalnya menolong teman, memberi makan orang miskin, salat tepat waktu, dll akan dibalas pahala oleh Tuhan. Tapi bisa jadi akan disertai rasa ingin pamer, riya, dan sejenisnya. Asalkan hama ini tidak berlebihan, ia akan tetap mendapatkan pahala. Adapun orang yang suka iri, hasud, suka pamer, menyakiti orang lain, dll akan mendapatkan siksa. Perbuatan negatif ini tidak akan disertai dengan misalnya membantu orang, memberi makan orang miskin.
“Sudah ah, saya mau lanjut baca korannya.” Si fulan membuka halaman kedua dari koran yang dipegangnya. Kali ini si fulan mendapati informasi kurang sedap. “Angka perceraian di kota Z meningkat 20% tahun ini.” Si fulan geleng-geleng kepala. Kenapa makin ramai saja orang pisah dengan pasangan. Janda dan duda tambah melimpah ni. Siapa mau?
Sejatinya semua yang di dunia ini akan berpisah. Tapi kurang siip lah kalau pisahnya di pengadilan. Lebih siip kalau pasangan suami isteri dipisahkan oleh maut. Setuju bro? Secinta apapun kita pada orang atau barang, ketika maut datang, pasti akan berpisah. Oleh karena itu, cintailah apapun yang diinginkan, tapi ingat semua yang dicintai akan berpisah pada waktunya. Ohh. So sweet. Si fulan tidak ngarang ni. Kata-kata itu diperoleh si fulan dari buku Ayyuha al-walad juga. Dalam perspektif sufi, mari mencintai makhluk sebagai perantara mencintai sang khaliq. Dia lah Zat yang maha cinta.
“Gantian baca korannya, yang nunggu antri baca banyak tu.!” Si fulan dikejutkan oleh teguran kakek-kakek yang sudah sejak tadi memelototi si fulan. Koran segera berpindah tangan. Alhamdulillah, ternyata rakyat Indonesia suka membaca. Sampai rela antri.
See you next time. Semoga ada manfaatnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here