Jember. 26 Januari 2019
Oleh: Ahmad Munif

Si fulan baru saja menerima tamu sore itu, tetangga dan kawan dekatnya. Namanya pak deni. Si fulan sedang bercengkrama dengan anak istri ketika pak deni tiba-tiba mengucapkan salam. Si fulan dan sekeluarga sedang ketiban nikmat min haisu la yahtasib siang hari sebelumnya. Ada yang menghibahkan kendaraan.
Si fulan tidak kenal sama sekali dengan penghibah tersebut. “Bapak tidak salah alamat menghibahkan kendaraan ini? Yakin saya orangnya?” si fulan coba meyakinkan. “Yakin, insyaallah saya tidak keliru. Silahkan diterima. Saya hanya perantara saja. Semoga bermanfaat.” Si fulan setengah tidak percaya. Di era kayak gini, si fulan khawatir ada orang coba tipu-tipu keluarganya. Namun orang yang tidak dikenal oleh si fulan tadi menunjukkan i’tikad baik. Ia tidak minta aneh-aneh kepada keluarga si fulan. Tidak seperti cerita tipu-tipu di berita TV tempo hari. Ia hanya minta si fulan mendoakan dirinya dan keluarga. “Semoga keluarga bapak baik-baik selalu. Senantiasa dalam lindungan dan rahmat-nya. Amin.” Si fulan bergaya seperti kyai sungguhan.
Eh, gimana kabar cerita pak deni tadi? Kok didiamkan? Nanti pak deni ngambek lho. “Jangan dong, gitu aja marah. Gak seru ah.” Ada apa gerangan pak deni menemui si fulan? Jarang pak deni datang dengan muka memelas. “Ada apa pak deni? Tampak tidak bersemangat. Ada yang bisa saya bantu?” pak deni bukan orang asing bagi si fulan. Mereka berkawan sejak kuliah dulu. Pak deni biasa membantu keluarga si fulan, dalam banyak acara dan kesempatan. Pun sebaliknya.
“Saya sedang perlu uang. Dua tahun lalu saya pinjam uang di bank, untuk usaha. Saya pakai sertifikat rumah saya sebagai jaminan.” Pak deni setengah menunduk. Ia merasa bersalah. Dulu tidak mendengar saran si fulan juga. “terus gimana den?” si fulan mencoba membuat pak deni nyaman. “Usaha dari uang pinjaman itu tidak berhasil. Hasilnya, saya menunggak. Belum bisa melunasi pinjaman itu.” Pak deni menghela nafas. Si fulan memperhatikan dengan seksama penjelasan kawannya. “Minggu depan jatuh temponya. Kalau tidak bisa dilunasi, saya harus merelakan rumah itu.”
Setelah berdiskusi seperlunya, si fulan mengatakan akan membantu pak deni. Si fulan masih ada simpanan uang yang cukup. “Saya coba bantu den, tapi hanya separonya saja. Sisanya nanti coba kamu temui kakak saya di desa sebelah. Ntar saya telpon kan dulu. Bilang saja saya yang nyuruh.” Pak deni mengiyakan perkataan si fulan. Lantas pulang.
“Hmmm, kalau si deni tak suruh mengembalikan dengan kelebihan dua persen, lumayan nih. Tambah-tambah penghasilan.” Si fulan sedang berkhayal. “Gitu ya, mentang-mentang punya duit, mau mengambil dan memanfaatkan kesempatan dari kawan yang sedang kesusahan. Manusia macam apa kamu?” ada suara gaib yang membisiki si fulan pasca khayalan tadi.
Si fulan merinding. “Astaghfirullah. Ampuni hamba ya Allah. Punya niat tidak baik kepada kawan sendiri.” Si fulan tiba-tiba ingat dengan materi hutang piutang saat kuliah dulu. Hutang piutang dalam pelajar fiqh muamalah dikenal dengan al-qardhu. Terdapat beberapa prinsip yang harus dipatuhi dalam transaksi al-qardhu. “Apa ya?” si fulan berusaha mengingatnya.
Diantaranya harus jelas jumlah atau nominalnya. Perlu juga disepakati waktu pengembaliannya. “Ada prinsip lainnya yang tidak kalah penting, dilarang meminta kelebihan dari nominal yang dihutangkan. Atau meminta kelebihan karena penundaan waktu pengembalian.” Suara ghaib itu datang lagi. “Terimakasih diingatkan.” Bisik si fulan.
Transaksi al-qardhu sejatinya merupakan akad tolong menolong. Sehingga dilarang menyusahkan dan mengambil keuntungan dari akad ini. Kalau prinsip dari suara ghaib tadi dilanggar, akan menyeret kepada riba. Kata pak kyai, riba itu haram, dosanya lebih besar dari pada orang berzina. “Gak mau ah,” si fulan geleng-geleng kepala.
Sebaliknya, kalau prinsip al-qarhu dipatuhi, itu sangat disukai Tuhan. Dalam hadis Nabi saw disebutkan, orang yang menghutangkan dua kali, ibarat bersedekah sekali. “Gimana? Mau.. Mau?” Misalnya minggu ini menghutangkan 1 juta, lalu dikembalikan. Minggu depan menghutangkan 1 juta lagi. Dan dikembalikan. Uangnya balik, tapi dihitung bersedekah dua juta. “Keren kan?”
“Itu lah diantara gunanya ilmu, menghindarkan dari berbuat maksiat.” Si fulan teringat pesan guru ngajinya pas ngaji Ayyuha al-walad dulu. Di sana dikatakan, ilmu yang tidak menjauhkan dari berbuat maksiat dan tidak mengantarkan kepada bersikap taat kepada Tuhan, maka ilmu itu tidak akan menjauhkan si pemilik ilmu dari api neraka. Apa itu maksiat, mudahnya maksiat itu sesuatu yang tidak dibenarkan di mata Tuhan. Sepemahaman si fulan, meminta kelebihan dari transaksi al-qardhu itu tidak dibenarkan. “Betul gak? Mohon diingatkan kalau si fulan keliru.”
Di penjelasan selanjutnya di Ayyuhal al-walad disebutkan, kalau kamu tidak mengamalkan ilmumu dan tidak memperbaiki kesalahan yang lalu, kelak di hari kiamat, engkau akan berkata sambil memohon, “Kembalikan aku ke dunia, aku akan berbuat amal yang sholeh.” Namun permohonan itu hanya sia-sia belaka. “Allahumma inni a’udzu bika minal ilmi lam yanfa’. Amin.” Si fulan memohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat.
Si fulan segera merebahkan badan. Jam menunjukkan pukul 11 malam. Isteri dan anak si fulan sudah tidur lebih dulu. Si fulan bersyukur seluruh keluarga dalam kondisi sehat wal afiat.
Cekap semanten rumiyen.

Mugi sae lan manfaat sedanten.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here